Medical Check UP (MCU) Rontgen, Darah, Urine, Jantung, dll

Medical Check UP (MCU)

Apa sobat sudah pernah Medical Check UP / MCU sebelumnya? Kalau saya baru kali ini melakukannya. Makanya saya tulis pengalaman saya ini agar teman-teman tahu bagaimana sih proses pemeriksaan kesehatan di rumah sakit itu. Diaman yang saya bayangkan sebelumnya, prosesnya itu ribet. Semuanya diperiksa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Trus belum lagi soal biaya yang tentunya minimal ratusan ribu rupiah untuk pemeriksaan keseluruhan tubuh kita. Benerkah itu, moga tulisan saya ini bisa memberigan gambarannya.

Pagi ini jam sembilan wita saya pergi keruang UGD RS SMC untuk melakukan Medical Check UP. Diruang ini saya menjumpai seorang pasien yang rupanya terkena serangan yang sepertinya kena struk, sebab keterangannya sih tangan dan kaki susah digerakkan. Saya temui salah seorang perawatnya dan memberitahukan tujuan saya kemari. Langsung sajalah saya diminta duduk, dan dicek satu persatu mengenai kesehatan saya.

MCU Tekanan Darah, Semua Permukaan Fisik, Wawancara

Yang pertama ditanya oleh sang perawat ya tentu saja identitas diri seperti nama dan alamat, kemudian pemeriksaan berlanjut dengan pengukuran berat badan; tinggi badan; dan tekanan darah. Trus saya disuruh berbaring di ranjang ruang UGD itu, saya kira mo diapain ternyata diminta nunggu sang dokter untuk melakukan check up berikutnya.

Saya lihat sang dokter sedang melakukan pemeriksaan dengan intensif terhadap pasien struk tadi, begitupun perawat-perawat yang ada disana ikut pula membantu. Akhirnya salah seorang dokter menghampiri saya, memberikan beberapa pertanyaan tentang riwayat penyakit saya dan keluarga saya. Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, pemeriksaan pun dilakukan. He.. he.. he.. dari ujung kepala sampai ujung kaki saya diperiksa sama tuh dokter cantik 🙂 .

MCU Periksa Jantung

Selesai pemeriksaan manual alias langsung dipegang-pegang ama si dokter, sekarang waktunya pemeriksaan memakai alat. Alat yang digunakan untuk medical check up sekarang ialah EKG / Elektrokardiografi. Alat ini digunakan untuk merekam aktivitas jantung, yang hasilnya berupa grafik disebuah kertas yang keluar dari mesin tersebut.

Kedua kaki dan tangan saya dijepit dengan alat yang terhubung dengan alat tersebut, begitu juga dada saya yang ditempelkan alat yang terhubung juga dengan alat itu dengan bentuk seperti alat bekam. Iseng-iseng karena ini pertama kali saya melakukannya, saya minta deh difoto ama perawatnya. He.. he.. he.. ternyata si perawat ikut-ikutan juga berfoto dengan hp-nya sendiri 🙂 .

Medical Check UP

Medical CheckUP Rontgen, Buka Baju ?

Nah, sekarang kita lanjut ke pemeriksaan rontgen atau biasa disebut ronsen. Karena untuk malakukan ronsen harus dilakukan ditempat tersendiri, maka sayapun diberi surat rujukan dan diminta ke ruang radiologi. Diruang ini saya bertemu dengan sang ahli rontgen, saya berikan surat dari UGD tadi dan sayapun diminta membuka baju untuk bersiap-siap dirontgen.

PERINGATAN: untuk kaum hawa kalau diminta buka baju, mintalah ruangan ganti untuk memakai baju khusus ronsen. JANGAN LANGSUNG MAIN BUKA AJA YA. Ini pengalaman yang diceritakan salah seorang keluarga saya yang pernah menjadi petugas rontgen katanya banyak yang ketika diminta buka baju, si gadis langsung bukan-bukaan gitu. Padahal disediakan baju khusus beserta ruang gantinya. So, waspadalah-waspadalah. Singkat kata, selesailah rontgen-nya dan saya melakukan ceckup berikutnya.

Medical Check UP Laboratorium (urine dan darah)

Pemeriksaan di ruang laboratorium juga memerlukan surat rujukan dari dokter UGD. Nah, disini juga tidak kalah serunya dengan check up lainnya. Pemeriksaan yang dilakukan pertama saya diminta memilih, apakah pemeriksaan urine dulu atau darah dulu. Karena saya dari awal ke RS memang sudah menahan BAK, ditambahan suhu AC yang membuat tambahan kepengen kebelakang, ya saya pilih tes urine dulu. Saya diberi botol penampung urine yang telah bertuliskan nama saya, trus diminta ke WC untuk mengisinya. He.. he.. he.. Jika dibandingkan dengan orang yang kebetulan sama-sama Medical Check Up dengan saya yang hasilnya sedikit, saya malah penuh malah kelebihan 🙂 .

Selesai memenuhi botol dan memberikan kembali urine tersebut kepetugasnya, akhirnya tiba saatnya cek darah. Rupanya orang yang bertemu saya di WC tadi, sekarang sedang di ambil darahnya jadinya saya mesti menunggu dulu. TIBA-TIBA, saya mendengar suara aneh didalam ruang pengambilan darah. Petugas yang melakukan pengambilan darah tadi, langsung keluar dan berlari mencari perawat. Waktu itu saya sempatkan melihat kedalam, saya lihat ada orang yang sedang tidur sambil duduk. Petugas tadipun kembali bersama perawat dan langsung menghampiri orang tadi. Oh, ternyata dia pingsan saat diambil darahnya, walaupun sudah siuman dengan terpaksa harus memakai kursi roda ke UGD.

Giliran saya sekarang yang duduk diruang pengambilan darah tadi. Alat-alat pengambilan darah disiapkan sang petugas, sambil memberitahukan bahwa alat tersebut masih baru. Oh iya untuk bisa cek semua hal didarah, kita harus sudah puasa selama minimal 8 jam. Pengambilan pertama dicoba di lengan kanan bagian tekukan siku (entah apa bahasa medisnya). Dicoba-coba cari nadinya ngga ketemu, “kurang olahraga ya” kata si ahli analis kesehatan itu. He.. he.. he.. bener, tau aja. Karena merasa sudah ketemu, akhirnya dimulailah jarum memasuki kulit saya. Tapi darahnya ngga keluar, jadilah si petugas menyucuk-nyucuk menyari salurannya. Merasa ngga bisa, akhirnya dikeluarkan tuh jarum dan ditutup dengan kapas plester.

Sekarang metode kedua dipakai si petugas, dimana yo memasukkan jarumya? Di balik telapak tangan saya (lagi-lagi ngga tau bahasa tepatnya), ya seperti orang di infus gitu. Karena pembuluh-nya lebih kelihatan, ya langsung aja di masukkan tuh jarum. Eh ternyata darahnya juga ngga keluar, lagi deh cucuk-mencucuk dimulai tuk menyari salurannya. Komentar yang dikeluarkan si petugas: “kurang minum ya”. Bener 100% dah he.. he.. he.. Namun, akhirnya jarum mesti dikeluarkan lagi dan ditutup kapas plester juga. Kali ini si petugas meminta saya untuk istirahat biar lebih rileks, “karena kalau terlalu tegang pembuluh-nya jadi mengecil” ujarnya.

Sewaktu istirahat tadi saya sempat berpikir, kenapa orang yang sebelumnya tadi menjadi pingsan plus pemikirian kira-kira dimana yang bakal dimasukkan jarum. Belum sempat pertanyaan terjawab terjawab, sang petugas datang dan menanyakan: “apakah sudah tenang ?”, “iya” jawab saya. Oh rupanya yang bakal diberikan jarum, ialah sang tangan kiri saya yang tepatnya di lipatan siku. Kali ini seperti dengan mudah dia mendapatkan pembuluh saya, sepertinya relaksasi tadi berhasil. Tanpa ragu masuklah sang jarum, dan akhirnya darahpun keluar. Ada dua tabung yang diisi darah saya, kedua-duanya dituliskan nama serta kode pemeriksaan saya. Alhamdulillah akhirnya selesai, untuk si petugas orangnya tenang bin cantik lagi. Dari awal hingga selesai, dengan tenang membimbing saya melakukan pengambilan darah. Pokoknya muaknyus dah pelayanannya :).

Setelah selesai semua pemeriksaan tadi, saya diminta kekasir untuk menyerahkan bukti pembayaran. Saya lihat kertas pembayarannya itu khusus untuk cek dilaboratorium saja, nilainya sekitar 280an ribu rupiah. Itu belum termasuk nilai cek di UGD dan Radiologi lho. Syukurnya semua pemeriksaan itu ditanggung oleh Rumah Sakit. Kok bisa? 🙂 ada deh.

Saya pun kembali keruang UGD untuk bertemu sang dokter. Disana saya diberitahu bahwa akan ditelpon bila hasil sudah keluar. Ya udah, sayapun pulang yang kebetulan bersama-sama orang yang pingsan tadi. Rupanya semalam dia bergadang nonton bola bro. Pelajaran tuh buat kita semua yang mau cek darah. Ok dah, selesai sudah tulisan saya tentang Medical Check Up. Terimakasih sudah membaca.

Medical Check UP (MCU). Post by: Dhony Pratama | 4.5
Tags:, ,

Categories: Pengalaman Terbaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*